Exam is over … which means ‘GOOD’
The day has come, the new Christmas is coming this year, I can’t wait the time till I go back ! :-)
Let’s be happy cause the exam is over, it means that you will sleep peacefully at least for the next one month before the school starts again ( Well, I have no school, I gotta work
next semester). The first thing that I do after the exam is having a nice dinner with watching “Survivor” reality show. Just now, I finish watching “2012″, which is quite inspirational, but I think that the rate from imdb.com is closer to it’s actual value. ( 6.4 out of 10, while one of my favourite movie this year “The Perfect Gateaway” rated 6.6 out of 10 ).
I am really missing my home, as the way it is. I want to apply as much as what I have learnt from here, hopefully at least I gives something useful. The smell of the air, the ambience, surrounding, the voices. I am trying to be as keen as what I have done in this place ( like fighting till the last for my exam, hopefully it gives better result ^^ ).
Okay, later this post will be updated ( I promise, very soon ). I just want to enjoy myself in my room
Kangen nge-blog, kangen-exam, kangen-rumah …
Tidak terasa waktu baru saja berputar, sekarang telah tiba saatnya kembali untuk menghadapi pencobaan terakhir, tiada lain lagi selain ‘EXAM’.
Lapar, Ngantuk, Malas, semua siklus rasanya berputar semakin cepat, sebab otak anda akan diperas berkali-kali lipat dari biasanya ( bayangkan saja, belajar buat quiz aja sudah setengah mati, apalagi kalau buat exam yang bakal mencakup 60-70 persen nilai kamu di Degree Audit ? )
Kali ini saya tidak ingin mengatakan banyak hal tentang exam, sebab yang ditulis paling itu-itu saja, stressnya juga itu-itu saja, kyk materi gak selesai dipelajari sampe pada hari H. Well, itu sudah biasa kok, hahaha
Setelah tidak ngeblog sekian lama, beberapa sindrom telah menimpa diri saya, seperti yang telah tercantum pada judul di atas. Terlebih lagi kangen rumah, huhu…. pengen cepat-cepat pulang lagi … kepingin makan roti tawar buatan rumah, ketemu keluarga besar
dan teman-teman, back to the nature job ( pas udah pulang pasti gak suka tuh, tapi kalo udah di sini jadi kangen lagi )
Tapi saya masih harus tetap fokus buat exam tanggal 19 nih, which is 2 hari lagi. Moga2 deh gw masih bisa tahan untuk belajar selama 3 minggu ke depan
“Loving Yourself”
Kadang ini merupakan suatu hal yang di luar kewajaran, ketika kita mencintai dan menyayangi orang-orang di sekitar kita, misalnya orang tua, saudara, sahabat, teman-teman, dan mungkin terhadap orang-orang di sekitar kita, sampai-sampai kita melupakan diri kita sendiri. Sadar atau tanpa sadar, itulah yang hal utama yang sering dilupakan oleh diri kita sendiri : mencintai diri sendiri. Kalau anda punya waktu, lihatlah wajah anda di depan cermin, amatilah baik-baik setiap raut wajah muka anda melingkupi semua yang ada di dalamnya. Biarkanlah pikiran anda kosong selama beberapa saat, kemudian cobalah renungkan kembali sudah berapa lama kita telah hidup, tumbuh dan berkembang, menjadi diri kita yang sekarang ini. Lalu, pikirkanlah, kapan terakhir kali kita benar-benar memperhatikan diri kita sendiri, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Memikirkan diri sendiri bukan berarti bahwa kita tidak lupa mandi dua kali sehari, makan dua kali sehari, sikat gigi saat bangun dan sebelum tidur, mendengarkan lecture dengan saksama. Setelah sekian waktu kita merenung, mungkin kita menyadari bahwa kita sering melupakan diri sendiri. Bahkan kita lupa untuk mencintai diri kita sendiri.
Apa yang kita lakukan selama ini kadang hanya sekedar formalitas, rutinitas, dan kebiasaan yang dilaksanakan berulang-ulang setiap harinya, sampai-sampai kita telah melupakan latar belakang dan alasan utama mengapa kita melakukan ini semua. “Mengapa aku sekarang kuliah?” Sejujurnya, buat saya, alasan paling utama yang mendasari semuanya itu adalah untuk “hidup”. Kalau mau dipikir-pikir, kadang belajar sampai memaksakan badan untuk melakukan hal yang di luar batas, tidak tidur, sampai mengubah jam biologis kita dari “pagi” menjadi “malam” dan “malam” menjadi “pagi”. Kita semua menjadi bodoh karena tuntutan dari lingkungan sekitar semata. Bercerminlah sebentar dan lihatlah diri kita sendiri, sempatkan diri untuk belajar kembali mencintai diri kita sendiri. Mencintai diri sendiri mungkin akan berarti egois, tapi memang seharusnya pada hakekatnya setiap manusia pada awalnya terlebih dahulu mencintai diri sendiri, barulah kemudian mereka dapat mencintai orang lain. Bagaimana bisa kita dapat mencintai orang lain jikalau diri kita tidak sempat kita pikirkan.
Satu-satunya manusia (selain Tuhan) yang menyertai diri kita, setiap saat, di mana pun kita berada, yang selalu mendukung diri kita di saat kita putus asa dan tidak memiliki semangat, semuanya adalah diri kita sendiri. Diri kita sendirilah yang menemani kita, sejak kita lahir dan menjadi bayi, kemudian tumbuh menjadi balita, anak kecil, remaja, dan pada akhirnya menjadi seseorang yang dewasa. Tidakkah kita menyimpan waktu sedikit bagi diri kita sendiri yang telah berjuang buat segalanya sehingga kita menjadi seperti sekarang ini? Sisakan waktu anda, dan biarkan hati nurani kita berpikir dan menyadarkan akan apa yang seharusnya dilakukan dalam hidup. Setelah itu, anda akan merasakan sebuah kekuatan luar biasa di dalam diri untuk terus berjuang bagi anda.
!@#$%^&*()
ini akan berlangsung untuk selamanya
kita tak akan pernah saling bicara
bahkan untuk memalingkan muka
rasa itu hilang tanpa berbekas
ini memang adalah saatnya
untuk saling berpisah
biarkan aku terbang menuju ke angkasa
berharap menemukan hidup yang lebih indah
… My Cousin’s Wedding …
Today, 28th October 2009, is my cousin’s wedding, in her 27th age
Wew, I can still imagine when I was still a young kid who always play with her and her brothers when my mom came to their house. When her older brother were married, I attended the wedding which is almost 7 year ago, that was the first time I saw her boyfriend. The first and the last until now. It’s amazing because they are still in a relationship until that day comes, which is today. I am really keen to go there, to be share my happiness with them, and also I could have a great chance to meet my siblings that I don’t meet for years. Though I am actually not blood-related, but I can feel inside that our heart will still be related one each other. You are always help me to be part of yours even though I am actually not. I can still remember the secrets that I still keep with you when you shared the bad jokes with me about that ‘questions’. Hahaha …
But as the time passes by, and nobody are realizing it, now you have opened the new page of your life. Hope you will always live happily for now and later on.
I am still dissappointed that I can’t come on your wedding day, hopefully someday we can meet again ^_^
To : Cici Geta & Ko Adjie (must I call u ‘Ko’ now?)
p.s. : your photo will be posted once I get it
… In the middle of the night …
What should I do ? study again ? that should be the answer, but not this time …
Now I enter again a stagnant state, where I will start to do things very slowly. My brain has been overwhelmed, and it takes some days to recharge then start to flow at the maximum speed at a free flow condition. Sighhh … the time has shown half past twelve, so I better sleep now before it’s too late to go into the morning lecture tomorrow
Swimming Experience – From “Zero” to “Hero”
Kalau mau dihitung … sepuluh jari tangan ini cukup untuk menunjukkan berapa kali saya pergi ke kolam renang di NTU. Ya, itu dulu ketika saya masih belum bisa berenang dengan baik dan benar. Semester ini, entah sudah berapa kali saya telah pergi ke kolam renang, baik di SRC, NIE, maupun di luar NTU. Apakah berenang ini sudah menjadi hobi atau hanya karena saya kecanduan ?
Sekitar 11-12 tahun yang lalu, saya masih ingat dengan jelas ketika saya masih sering diajak oleh orang tua saya piknik ke pantai dalam rangka arisan antar teman-teman karib mereka. Waktu itu, saya masih berumur sekitar 7-8 tahun. Ke pantai adalah satu-satunya hiburan yang paling menyenangkan dan paling bisa merefreshkan otak di tengah kejenuhan bekerja dan melakukan aktifitas harian. Balik lagi ke cerita semula, sesungguhnya saya sejak kecil sudah terbiasa dan akrab dengan apa yang namanya “pantai”, merasakan bagaimana dihempaskan ombak yang kecil maupun besar. Berjalan di laut dengan merasakan kaki diinjak sesuatu barang tajam dan terasa aneh, walaupun semakin jauh anda berjalan maka anda akan mendapat permukaan pasir yang lebih bersih dan terasa halus.
Sejak kecil, saya tidak tahu berenang ( atau lebih dikenal dengan kata “batobo” ). Namun, saya sungguh menyukai ketika akan diajak ke pantai. Entah mengapa, saya merasakan ketika saya pergi ke pantai, pikiran saya menjadi tenang, senang, lega. Pokoknya bisa jadi penghilang stress juga, walaupun pada saat itu saya masih seorang bocah. Ketika saya berenang, saya sering kali diajak untuk latihan berenang di pantai. Saya pada saat itu akan langsung melarikan diri ke pesisir ketika mulai melihat tatapan-tatapan mata yang bermaksud untuk mengajak saya ke tempat yang lebih dalam agar saya dapat belajar berenang. Saking takutnya, berenang telah menjadi sebuah “phobia”, walaupun saya tetap menyukai ajakan untuk jalan-jalan ke pantai. Namun, saya akan selalu menolak ketika ada orang yang menawarkan untuk melatih saya agar bisa berenang dengan lancar.
Bahkan sampai pada suatu saat, adik sepupu saya yang waktu itu masih tk, lebih berani untuk berenang di tempat yang dalam dan paling tidak yang saya lihat dia sudah bisa berenang. Waktu itu mungkin saya menjadi satu-satunya anak yang belum bisa berenang. Status itu bahkan berlanjut sampai saya SMP. Memasuki SMA kelas 1, di pertengahan semester 1, pelajaran olahraga waktu itu adalah renang. Di dalam benak saya, ” gak ada harapan lagi, pasti gw gak lulus “. Belum lagi waktu itu kita semua pergi ke kolam renang yang menurut saya agak menjijikkan, sebab di dalam air banyak sekali terlihat lumut (walaupun di bagian tertentu airnya masih cukup bersih ). Kalau begini bagaimana bisa saya bisa berenang ? Untung saja, ketika naik ke kelas 2 SMA, kolam renang di asrama sudah dan jadi dan minimal kalau ada olahraga renang, saya tidak perlu jijik lagi akan air yang kotor itu.
Berhasilkah ? belum. Meskipun kolam renang di sekolah sudah bisa dipakai, tapi tetap saja waktu itu saya masih belum bisa berenang. Teknik dasar yang saya bisa mungkin hanyalah meluncur. Bahkan dalam jarak 2-3 meter mungkin saya sudah kehabisan napas dan kembali lagi berdiri di tengah kolam. Sebelum lulus, pada akhirnya ada satu kemampuan lagi yang sedikit bertambah : saya bisa berenang kalau tahan napas.
Inilah menjadi modal terakhir yang mungkin saya miliki. Sudah sekitar 2-3 tahun saya berlatih bagaimana untuk mengambil napas, namun tetap saja saya tidak tahu tips dan triknya. Setiap kali saya mencoba mengambil napas, paling cuma 1 kali atau 2 kali, dan itupun sudah ngos-ngosan karena rasanya sudah tidak kuat lagi Praktis tiap kali saya ke kolam renang, saya pasti cuma jalan-jalan di tengah kolam renang dan mencoba untuk berenang ke ujung kolam ketika jaraknya kelihatan terjangkau.
Semester ini, dengan teknik yang sama, saya mencoba untuk mencari rahasia gimana bisa renang. Saya tidak tahu dari kapan hal itu bermula dan kemudian berlanjut, saya kemudian mendapatkan pola latihan yang mungkin bisa buat saya tahu gimana supaya bisa lancar berenang. Lama-kelamaan, akhirnya … saya BISA. Dulu saya menganggap itu mungkin telah menjadi sebuah “kutukan kecil” seumur hidup saya. Namun pada akhirnya, saya bisa melepaskan kutukan itu, setelah bertahun-tahun lamanya. Sekarang saya justru mulai ketagihan dengan apa yang namanya renang. Seminggu bisa dua kali saya pergi ke kolam renang.
So, bagi yang belum bisa, tenang saja. Asal ada kemauan, kalian pasti bisa. Dulu saya menganggap saya paling goblok kalau disuruh berenang, namun sekarang tidak lagi
. I’m so happy that now I have learnt this ability, after years I try and I failed
Aku ingin hidupku kembali …
Bosan, aku bosan dengan hidup yang seperti ini. Masuk lecture, buat tutorial, belajar buat kuis, belajar buat exam … setiap hari melihat mahasiswa dengan muka stress karena mereka akan segera menghadapi ujian sebentar atau mungkin keesokan harinya. Setiap kali mendapat kabar dari rumah, kabar dari mereka yang sedang berlibur, kabar dari mereka yang sedang bekerja, aku merasa bahwa itulah sesungguhnya kehidupan yang nyata. Bukannya tiap hari melihat muka professor (mau tidak mau harus masuk kelas kalau mau lulus). Ujian tinggal sebulan lagi, dan aku masih mengeluh akan hal ini. Tapi, begitulah, aku ingin hidupku kembali. Walaupun mungkin ketika dibandingkan dengan yang dulu, ketika aku mungkin tidak dapat menggunakan internet sepuasnya, update status tiap hari di facebook, tapi itulah hidupku. Sesusah apapun dan semenjengkelkan kadang kehidupanku yang dulu namun itu adalah hidupku, dan aku sungguh bersyukur dan mengidamkannya. Walau itu bukan berarti aku tidak bersyukur akan kehidupanku yang sekarang ini.
Mungkin ini adalah tanda-tanda orang yang ingin bekerja, dan memang dari beberapa tahun terakhir aku merasa bekerja itu lebih enjoyable daripada universitas, karena anda akan dapat belajar tentang kehidupan dari berbagai dimensi. Anda bisa belajar dari mereka yang bangun tiap pagi membersihkan jalanan, menjadi tukang parkir untuk memenuhi kebutuhan harian, belajar dari mereka yang telah mapan dan sukses dalam bisnis, belajar dari seorang perantau yang datang dari daerah terpencil, dan sebagainya. Semua hal akan bergabung menjadi satu dan terlalu rumit untuk dijelaskan. Tapi, disitulah anda dapat merasakan kenikmatan hidup, anda bisa belajar merasakan bagaimana bisa menikmati hidup dari kehidupan orang yang seadanya. Mereka mungkin tidak lagi memiliki ambisi untuk mengejar impian mereka, tapi setiap waktu anda bisa melihat mereka benar-benar menikmati hidup. Kadang tidak ada jawaban yang jelas mengapa mereka masih bisa tersenyum senang di tengah kemelut hidup ini.
Anggaplah semua perjuanganku kali ini sebagai untuk membuka pintu kehidupanku yang itu. Tidak lama lagi, hanya tinggal 2 bulan lagi, aku akan kembali. Tunggulah kamu yang sedang menanti diriku
…
” You must sleep enough … “

That sentence came out from a stranger who cut my hair today. I didn’t know that even a barber could take a notice when he was cutting my hair. But I must admit that it is true, where I have gotten a ‘kiasu’ syndrome, which always come when quizzes and exams are coming. They may give benefits cause you will more confident when the test eventually come, but it will start to annoy when you don’t have anymore time to relax, gather with your friends, or maybe you don’t have time anymore for your own self.
That’s exactly what is happening on me at this moment. After come back from school, I can only have a choice to ’study’ to keep me survive on the a roller coaster of third year subjects of Civil Engineering. Everybody is doing the same thing like me, so I don’t have a choice to stop and change it to another priority. Earlier this moment, I was wondering that I would be able to attend my close cousins’s wedding at Indonesia, but due to the busy weeks at this time, I should put that dream out of my mind because I realize that I won’t be able to catch when I need to skip lectures for almost a week, and I don’t think to catch the ‘roller coaster’ is possible, cause it travels too fast, that’s how I can describe about what is going on this semester.
Fortunately, I can still have some time to refresh my body, and I think this is first time when I always go to SRC for swimming twice a week ( hopefully I can become a better swimmer ), play table tennis once a week, and play tennis twice a week. Now I feel that I can take longer time to study, shorter time to regenerate my energy, and I want to continue this routinity because I think this is very comfortable for me. Then, watching one or two movies is quite good to refresh my mind when I don’t want to study at one moment.
For later, I hope that I can try to sleep enough to keep my body fit and for the sake of my health if later I have become older and older in this earth. Let us live healthy ^^